Begini Canggihnya Teknologi USC dan SCR di PLTU Jawa 9 dan 10

PLTU Jawa 9 dan 10 adalah pembangkit listrik dengan kapasitas 2000 MW yang telah dibangun di Suralaya, Provinsi Banten. Pembangkit listrik dengan tenaga super besar ini digadang akan dapat memenuhi kebutuhan listrik di Pulau Jawa dan Bali, yang merupakan pulau dengan penduduk paling padat di Indonesia.

Sebagai mesin pembangkit dengan tenaga uap, PLTU ini dirancang menggunakan batu bara sebagai salah satu bahan bakar utama. Siapapun pasti sepakat bahwa pembakaran batu bara untuk menghasilkan energi listrik setiap hari dalam jangka panjang menghasilkan polusi udara. Semakin besar mesin, akan semakin banyak hasil polusinya.

Baku Mutu Emisi PLTU

Terbayang seberapa besar polusi yang dihasilkan oleh sebuah pembangkit listrik ukuran besar? Untuk mengendalikan mutu emisi demi menjaga kualitas udara di kawasan sekitar dan Indonesia secara luas, pemerintah melalui Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan mengatur baku mutu emisi.

Baku mutu emisi merupakan batas maksimal emisi atau kadar cemaran udara yang diizinkan untuk menjadi polusi. Batas maksimal tersebut ditetapkan oleh pemerintah demi menjaga kelangsungan lingkungan hidup dan harus dipatuhi oleh semua industri termasuk PLTU Jawa 9 dan 10. 

Dua mesin pembangkit skala besar tersebut menerapkan teknolgi USC dan SCR untuk menjaga agar polusi yang dihasilkan tidak merusak lingkungan dan masa depan manusia. Kedua teknologi tersebut diterapkan pertama di Indonesia demi mematuhi regulasi emisi dan menjaga kehidupan di bumi, demikian dilansir detikekonomi.

Teknologi Ultra Super-Critical

Teknologi Ultra Super Critical (USC) merupakan teknologi yang diterapkan pada PLTU Jawa 7, PLTU Jawa 9 dan 10, PLTU Cirebon 2 dan PLTU Cilacap. Teknologi ini memungkinkan efisiensi tenaga listrik yang dihasilkan sebesar 42%-45%, lebih besar dari teknologi boiler Supercritical yang efisiensinya sekitar 32%-38%.

Penggunaan teknologi USC dianggap cukup efektif meningkatkan efektifitas bahan bakar. Semakin sedikit penggunaan batu bara dan semakin besar energi yang dihasilkan, dapat menghemat penggunaan sumber daya alam yang semakin lama semakin menipis. Hemat bahan bakar berarti juga memperpanjang usia ketersediaan bahan bakar dari alam.

Keberadaan PLTU Jawa 9 dan 10 diharapkan mampu memenuhi kebutuhan listrik seluruh pelosok pulau Jawa, Madura dan Bali. Sampai saat ini hampir seluruh desa di ketiga pulau terpadat se-tanah air ini sudah terjangkau oleh listrik. Hanya saja semakin lama kebutuhan akan listrik semakin meningkat seiring dengan banyaknya alat elektronik baru.

Mulai dari alat elektronik kecil seperti alat pemanggang roti, panci listrik, sampai yang membutuhkan daya lebih besar seperti microwave, sepeda listrik hingga yang terbaru mobil listrik. Mungkin akan datang masa di mana energi paling besar dibutuhkan manusia adalah listrik di negeri ini.

Teknologi Selective Catalytic Reduction (SCR)

Teknologi Selective Catalytic Reduction (SCR) berfungsi mengurangi kadar Nitrogen Oksida (NOx) dari limbah pembakaran sebelum dibuang ke udara bebas. Industri pembangkit listrik seperti PLTU Jawa 9 dan 10 tentu tidak lagi menggunakan suntikan urea, namun menggunakan katalis bernama palladium atau platinum untuk memecah gas NOx.

Menurut hasil studi dan pemeriksaan laboratorium, sisa pembakaran dari batu bara di PLTU diantaranya adalah Sox (Sulfur Oksida), NOx (Nitrogen Oksida) dan partikulat. Dari bahan cemaran tersebut berpotensi merusak organ vital manusia terutama paru, jantung dan keracunan pada sistem pencernaan akibat kontaminasi udara pada makanan.

Keberadaan teknologi USC dan SCR yang diterapkan pada PLTU Jawa 9 dan 10 mengurangi risiko polusi lingkungan dan menjaga keberlangsungan alam jangka panjang. Semakin tinggi standar emisi yang ditetapkan pemerintah, semakin baik inovasi teknologi yang harus diterapkan.